Selasa, 04 Januari 2011

kecurangan auditor

BAB I
PENDAHULUAN

Internal auditing adalah suatu penilaian, yang dilakukan oleh pegawai perusahaan yang terlatih mengenai ketelitian, dapat dipercayainya, efisiensi, dan kegunaan catatan-catatan (akutansi) perusahaan, serta pengendalian intern yang terdapat dalam perusahaan. Tujuannya adalah untuk membantu pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran, dan komentar mengenai kegiatan yang di audit. Untuk mencapai tujuan tersebut, internal auditor melakukan kegiatan–kegiatan berikut:
– Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya dan penerapan sistem pengendalian manajemen, struktur pengendalian intern, dan pengendalian operasional lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal,
– Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen
– Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan dan penyalahgunaan
– Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya
– Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh manajemen
– Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan efisensi dan efektifitas
Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukannya tersebut dapat disimpulkan bahwa internal auditor antara lain memiliki peranan dalam :
a. Pencegahan Kecurangan (Fraud Prevention),
b. Pendeteksian Kecurangan (Fraud Detection), dan
c. Penginvestigasian Kecurangan (Fraud Investigation).



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Audit Kecurangan
Kecurangan berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan sehingga menyebabkan informasi tidak benar, apabila suatu kesalahan adalah disengaja maka kesalahan tersebut merupakan kecurangan (fraudulent). Yang dimaksud dengan kecurangan (fraud) sangat luas dan ini dapat dilihat pada butir mengenai kategori kecurangan. Namun secara umum, unsur-unsur dari kecurangan (keseluruhan unsur harus ada, jika ada yang tidak ada maka dianggap kecurangan tidak terjadi) adalah harus terdapat salah pernyataan (misrepresentation) dari suatu masa lampau (past) atau sekarang (present) fakta bersifat material (material fact) dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan (make-knowingly or recklessly) dengan maksud (intent) untuk menyebabkan suatu pihak beraksi. Pihak yang dirugikan harus beraksi (acted) terhadap salah pernyataan tersebut (misrepresentation) yang merugikannya (detriment). Kecurangan dalam tulisan ini termasuk (namun tidak terbatas pada) manipulasi, penyalahgunaan jabatan, penggelapan pajak, pencurian aktiva, dan tindakan buruk lainnya yang dilakukan oleh seseorang yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasi/perusahaan.
Fraud Auditing hendaknya disebut dengan istilah Audit atas Kecurangan, yang dapat didefinisikan sebagai Audit Khusus yang dimaksudkan untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya penyimpangan atau keurangan atas transaksi keuangan. Fraud auditing termasuk dalam audit khusus yang berbeda dengan audit umum terutama dalam hal tujuan yaitu fraud auditing mempunyai tujuan yang lebih sempit (khusus) dan cenderung untuk mengungkap suatu kecurangan yang diduga terjadi dalam pengelolaan asset/aktiva. Audit Khusus (Special Audit) Audit khusus adalah audit yang dilakukan atas lingkup audit yang bersifat khusus. Dengan demikian audit khusus yang bertujuan menilai kasus tidak lancarnya pelaksanaan pembangunan dapat digunakan istilah Audit Khusus atas Ketidak Lancaran Pelaksanaan Pembangunan (KTLPP). Audit khusus yang bertujuan mengungkapkan kecurangan adalah Audit Khusus atas kecurangan.

2.2 Gejala Adanya Kecurangan
Pelaku kecurangan di atas dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok, yaitu: manajemen dan karyawan. Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen umumnya lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan tersebut.
a. Gejala kecurangan manajemen
• Ketidakcocokan diantara manajemen puncak
• Moral dan motivasi karyawan rendah
• Departemen akuntansi kekurangan staf
• Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak
• konsumen, pemasok, atau badan otoritas
• Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi
• Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang meningkat
• Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka waktu yang lama
• Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan
• Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun buku
b. Gejala kecurangan karyawan
• Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa perincian/penjelasan pendukung
• Pengeluaran tanpa dokumen pendukung
• Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar
• Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung pembayaran
• Kekurangan barang yang diterima
• Kemahalan harga barang yang dibeli
• Faktur ganda dan penggantian mutu barang

Faktor Pendorong Kecurangan dan Pencegahannya
Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan, yang disebut juga dengan teori GONE, yaitu:
a. Greed (keserakahan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual).
b. Opportunity (kesempatan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Kesempatan (opportunity) untuk melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku terhadap objek kecurangan. Kesempatan untuk melakukan kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Namun, ada yang mempunyai kesempatan besar dan ada yang kecil. Secara umum manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan.
c. Need (kebutuhan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual).
d. Exposure (pengungkapan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Pengungkapan (exposure) suatu kecurangan belum menjamin tidak terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh pelaku yang lain. Oleh karena itu, setiap pelaku kecurangan seharusnya dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap.

Faktor individu
Faktor ini melekat pada diri seseorang dan dibagi dalam dua kategori:
•Moral: Faktor ini berhubungan dengan keserakahan (greed). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk mengurangi risiko tersebut adalah:
a. Misi/tujuan organisasi/perusahaan, ditetapkan dan dicapai dengan melibatkan seluruh pihak (manajemen dan karyawan)
b. Aturan perilaku pegawai, dikaitkan dengan lingkungan dan budaya organisasi/perusahaan
c. Gaya manajemen, memberikan contoh bekerja sesuai dengan misi dan aturan perilaku yang ditetapkan organisasi/perusahaan
d. Praktik penerimaan pegawai, dicegah diterimanya karyawan yang bermoral tidak baik
•Motivasi: Faktor ini berhubungan dengan kebutuhan (need). Beberapa cara mengurangi kemungkinan keterlibatan dalam kecurangan:
a. Menciptakan lingkungan yang menyenangkan, misalnya: memperlakukan pegawai secara wajar, berkomunikasi secara terbuka, dan adanya mekanisme agar setiap keluhan dapat didiskusikan dan diselesaikan
b. Sistem pengukuran kinerja dan penghargaan, yang wajar sehingga karyawan merasa diperlakukan secara adil
c. Bantuan konsultasi pegawai, untuk mengetahui masalah secara dini
d. Proses penerimaan karyawan, untuk mengidentifikasi calon karyawan yang berisiko tinggi dan sekaligus mendiskualifikasinya
e. Kehati-hatian, mengingat motivasi seseorang tidak dapat diamati mata telanjang, sebaliknya produk motivasi tersebut tidak dapat disembunyikan

Kategori Kecurangan
Pengklasifikasian kecurangan dapat dilakukan dilihat dari beberapa sisi.
A. Berdasarkan pencatatan
Kecurangan berupa pencurian aset dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori:
a. Pencurian aset yang tampak secara terbuka pada buku, seperti duplikasi pembayaran yang tercantum pada catatan akuntansi (fraud open on-the-books, lebih mudah untuk ditemukan).
b. Pencurian aset yang tampak pada buku, namun tersembunyi diantara catatan akuntansi yang valid, seperti: kickback (fraud hidden on the-books).
c. Pencurian aset yang tidak tampak pada buku, dan tidak akan dapat dideteksi melalui pengujian transaksi akuntansi “yang dibukukan”, seperti: pencurian uang pembayaran piutang dagang yang telah dihapusbukukan/di-write-off (fraud off-the books, paling sulit untuk ditemukan).
B. Berdasarkan frekuensi
Pengklasifikasian kecurangan dapat dilakukan berdasarkan frekuensi terjadinya:
a. Tidak berulang (non-repeating fraud). Dalam kecurangan yang tidak berulang, tindakan kecurangan — walaupun terjadi beberapa kali — pada dasarnya bersifat tunggal. Dalam arti, hal ini terjadi disebabkan oleh adanya pelaku setiap saat (misal: pembayaran cek mingguan karyawan memerlukan kartu kerja mingguan untuk melakukan pembayaran cek yang tidak benar).
b. Berulang (repeating fraud). Dalam kecurangan berulang, tindakan yang menyimpang terjadi beberapa kali dan hanya diinisiasi/diawali sekali saja. Selanjutnya kecurangan terjadi terus-menerus sampai dihentikan. Misalnya, cek pembayaran gaji bulanan yang dihasilkan secara otomatis tanpa harus melakukan penginputan setiap saat. Penerbitan cek terus berlangsung sampai diberikan perintah untuk menghentikannya.
Bagi auditor, signifikansi dari berulang atau tidaknya suatu kecurangan tergantung kepada dimana ia akan mencari bukti. Misalnya, auditor harus mereview program aplikasi komputer untuk memperoleh bukti terjadinya tindakan kecurangan pembulatan ke bawah saldo tabungan nasabah dan pengalihan selisih pembulatan tersebut ke suatu rekening tertentu.
C. Berdasarkan konspirasi
Kecurangan dapat diklasifikasikan sebagai: terjadi konspirasi atau kolusi, tidak terdapat konspirasi, dan terdapat konspirasi parsial. Pada umumnya kecurangan terjadi karena adanya konspirasi, baik bona fide maupun pseudo. Dalam bona fide conspiracy, semua pihak sadar akan adanya kecurangan; sedangkan dalam pseudo conspiracy, ada pihak-pihak yang tidak mengetahui terjadinya kecurangan.
D. Berdasarkan keunikan
Kecurangan berdasarkan keunikannya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Kecurangan khusus (specialized fraud), yang terjadi secara unik pada orang-orang yang bekerja pada operasi bisnis tertentu. Contoh: (1) pengambilan aset yang disimpan deposan pada lembaga-lembaga keuangan, seperti: bank, dana pensiun, reksa dana (disebut juga custodial fraud) dan (2) klaim asuransi yang tidak benar.
b. Kecurangan umum (garden varieties of fraud) yang semua orang mungkin hadapi dalam operasi bisnis secara umum. Misal: kickback, penetapan harga yang tidak benar, pesanan pembelian/kontrak yang lebih tinggi dari kebutuhan yang sebenarnya, pembuatan kontrak ulang atas pekerjaan yang telah selesai, pembayaran ganda, dan pengiriman barang yang tidak benar.


2.3 Tindakan/perilaku pelaku kecurangan
Berikut merupakan daftar perilaku seseorang yang harus menjadi perhatian auditor karena dapat merupakan indikasi adanya kecurangan yang dilakukan orang tersebut, yaitu:
•Perubahan perilaku secara signifikan, seperti: easy going, tidak seperti biasanya, gaya hidup mewah.
•Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat kerja
•Penjudi dan peminum berat
•Sedang dililit utang
•Temuan audit atas kekeliruan (error) atau ketidakberesan (irregularities) dianggap tidak material ketika ditemukan
•Bekerja tenang, bekerja keras, bekerja melampaui jam kerja, sering bekerja sendiri

2.4 Ada 6 bidang yang beresiko tinggi terkena fraud
1. Purchasing and payroll
Fraud dalam purchasing biasanya dilakukan dengan cara:
- “Kickback” atau suap diberikan kepada pihak yang mengurus pembelian sebagai imbalan atas diberikannya kontrak kepada supplier.
- “Invoice palsu” yang dibuat sendiri oleh pihak yang mengurus pembelian, kemudian ditagihkan ke perusahaan dan dibayar.
- “Manipulasi data supplier” misalnya nomor rekening pembayaran ke supplier diubah ke rekening orang lain. Sementara fraud dalam payroll misalnya jam overtime yang berlebih.
c. Sales and inventory
Fraud dalam jenis ini misalnya:
Pencurian inventory baik yang sedang disimpan atau dalam pengiriman
Transaksi penjualan dengan sengaja tidak dicatat atau dikurangi pencatatannya dan uang yang diterima atas penjualan tersebut masuk ke kantong pribadi
Mengurangi atau menghapuskan jumlah utang konsumen atas barang yang sudah dijual secara kredit
Mencatat transaksi penjualan palsu untuk mendapatkan komisi atau bonus terkait dengan penjualan
Memberikan diskon berlebihan kepada konsumen (biasanya dengan imbalan ‘kickbacks’)
d. Cash and check
Kas merupakan aset yang paling sensitif terhadap fraud karena ‘nature’ nya yang kelihatan secara fisik dan relatif lebih mudah dipindahtangankan dibandingkan aset perusahaan yang lain. Fraud atas cek biasanya terjadi ketika terdapat kelemahan dalam proses bank reconciliation dan tidak ada segregation of duties.
e. Physical security
Kelemahan dalam physical security dapat menimbulkan asset misapropriation.
f. Hak kekayaan intelektual (HAKI) dan kerahasiaan informasi
Ini terkait dengan fraud dalam pembajakan dan pencurian informasi penting milik perusahaan.
g. Information Technology
IT fraud meliputi hacking, mail-bombing, spamming, domain name hijacking, server takeovers, denial of service, internet money laundering, electronic eavesdropping, electronic vandalism and terrorrism.

2.5 Karakteristik Pribadi
kecurangan ini akan tercermin melalui timbulnya karakteristik tertentu, baik yang merupakan kondisi / keadaan lingkungan, maupun perilaku seseorang. Karakterikstik yang bersifat kondisi / situasi tertentu, perilaku / kondisi seseorang personal tersebut dinamakan Red flag (Fraud indicators). Meskipun timbulnya red flag tersebut tidak selalu merupakan indikasi adanya kecurangan, namun red flag ini biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan yang terjadi. Pemahaman dan analisis lebih lanjut terhadap Red flag tersebut dapat membantu langkah selanjutnya untuk memperoleh bukti awal atau mendeteksi adanya kecurangan.

2.6 Praktek Kecurangan Yang Umum
Bagaimana Manipulasi Harga Saham Dilakukan? Di tahun 1929, ada ‘Wall Street Crash’ yang merupakan salah satu kehancuran paling dahsyat dalam sejarah bursa dunia. Pada waktu itu terjadi booming investasi di bursa saham Amerika. Booming tsb didukung juga oleh para pialang yang meminjamkan dana pada para investor untuk membeli saham, istilahnya margin trading. Bencana berawal dengan isu-isu yang dihembuskan oleh para analis dan spekulan untuk ‘menggoreng’ saham, dimana harga saham didorong melambung tinggi tanpa diikuti dengan pertumbuhan fundamental perusahaan emiten. Akibatnya terjadilah ‘economic bubble’ , tinggal tunggu waktu meletusnya aja. Di tahun 1929 itu, dalam rentang waktu sekitar sebulan, terjadi koreksi Dow Jones Industrial Average (DJIA) sebesar 42%. Termasuk di dalamnya adalah peristiwa ‘Black Thursday’ (24 Oktober 1929 dimana DJIA jatuh 13%) dan ‘Black Tuesday’ (29 Oktober 1929 dimana DJIA jatuh 12%).
Total kerugian investor AS disebabkan ‘Wall Street Crash’ mencapai 30 miliar dollar AS. Angka itu jauh melebihi biaya yang dikeluarkan AS untuk Perang Dunia II. Runtuhnya Wall Street dianggap sebagai gejala, bahkan penyebab, terjadinya Great Depression AS tahun 1929-1938. Para analis menyatakan bahwa runtuhnya Wall Street tahun 1929 tersebut banyak disebabkan karena transaksi short selling yang dilakukan oleh para spekulan. Cara kerja short selling kurang lebih seperti ini:
•Spekulan meminjam saham dari pialang/broker
•Spekulan menjual ‘kontrak’ harga saham pada level tertentu (harga masih tinggi)
•Sentimen negatif atau isu-isu dihembuskan agar harga saham tersebut jatuh
•Spekulan kemudian memborong saham dengan harga yang sudah jatuh, namun dapat menjualnya dengan harga ‘kontrak’ yang masih tinggi, sehingga mendapatkan margin keuntungan
•Spekulan mengembalikan saham kepada pialang/broker
Transaksi short selling ini juga ikut menyebabkan peristiwa ‘black monday’ (19 Oktober 1987, dimana DJIA turun 22% dalam sehari) dan krisis dotcom (tahun 2000-2002, dimana Nasdaq turun 78%).







Gambar 2.1
skema ‘permainan kotor’ di bursa saham:


























Bahwa transaksi short selling dalam kondisi pasar saham yang normal bermanfaat untuk mendorong bursa menjadi lebih atraktif sehingga likuiditas pasar meningkat dan dapat dimanfaatkan untuk tujuan hedging (lindung nilai) terhadap potensi penurunan harga saham. Mengenai short selling, awalnya otoritas bursa di Amerika, Inggris, Jerman dan Irlandia melarangnya dalam situasi krisis finansial saat ini. Tetapi setelah UU Penyelamatan Ekonomi AS/bailout senilai US$ 700 miliar ditandatangani, bursa Amerika mencabut larangan tersebut. Bursa efek Indonesia sendiri, sejak Oktober 2008 melarang transaksi short selling.

2.7 Mendeteksi Fraud dalam 10 Menit dan Tanggung Jawab Auditor Internal
Salah satu software yang paling banyak digunakan untuk mendeteksi fraud adalah ACL. Dalam salah satu webinar-nya, ada tips bagus dan simple dari Sean Elrington (Senior Technical Specialist ACL) untuk mendeteksi fraud.
1. Suspicious numbers
Cara pertama yang sering dilakukan dalam mendeteksi fraud adalah dengan mencari angka-angka yang mencurigakan atau curigation.
a. Benford Analysis
Populer dengan nama Benford’s Law (kaidah atau hukum Benford), analisanya mengatakan bahwa secara umum dan internasional dalam sebuah populasi, angka yang berawalan 1,2, dan 3 akan berjumlah lebih banyak dari angka yang berawalan 7,8, dan 9. Akan tetapi supaya Benford’s Law ini dapat diterapkan secara efektif, angka-angka dalam satu populasi tersebut harus memenuhi beberapa syarat:
•Tidak ada batas bawah angka tertentu
•Lebih banyak nilai/angka-angka yang kecil daripada yang besar (misalnya lebih banyak satuan, puluhan, dan ratusan daripada ratusan ribuan atau puluhan juta)
•Minimal 1000 data
•Merupakan angka yang ‘natural’ (bukan daftar angka-angka berupa nomor telepon, KTP, NPWP, dan sejenisnya)
•Berasal dari transaksi yang mirip/serupa (misalnya, data jumlah pembelian per-konsumen di bulan tertentu)
b. Even dollar transaction
Mencari angka-angka yang jumlahnya sama persis, pada ACL menggunakan function MOD atau MODULUS. Kenapa? Karena salah satu cara untuk melakukan fraud adalah dengan mencatat atau menjurnal transaksi palsu, yang kemudian akan dikoreksi atau di-adjustment. Misalnya fraud yang dilakukan dengan menggelembungkan nilai penjualan (sales) supaya dapat bonus besar, lalu dikoreksi atau dihapuskan sejumlah yang sama di periode selanjutnya. Tes ‘even dollar transaction’ ini juga hanya menunjukkan indikasi atau potensi terjadinya fraud. adanya kesamaan data tidak selalu berarti fraud
c. Suspicious Vendors
Adalah teknik mendeteksi fraud dengan mencari vendor atau supplier atau rekanan yang ‘mencurigakan’. Biasa dikenal dengan istilah ‘phantom vendors’, yang sebenarnya hanya menumpang nama dan tidak pernah mengirimkan barang atau jasa yang dipesan, tapi melakukan penagihan (invoice) dan dibayar. Biasanya melibatkan orang dalam, yang terlibat dalam siklus pembelian atau procurement dan pembayaran atau payment. Salah satu cara suspicious vendors adalah dengan mencari keterkaitan atau relasi antara karyawan perusahaan dengan supplier atau vendor tertentu. Bisa dengan mencari kesamaan data antara karyawan dan supplier, seperti alamat, nomor telepon, NPWP, nomor rekening bank, dll. Perusahaan dengan alamat PO. BOX. atau perumahan (apartemen, kompleks) juga bisa jadi mengindikasikan ‘phantom vendors’. Di ACL juga ada function ’soundslike’ untuk mencari kesamaan data antara sesama supplier, yang bisa menjadi indikasi adanya ‘phantom vendors’. Misalnya ada 2 vendors, yang satu namanya PT. ABC, satu lagi PT. AB C (tambah spasi).
e. Suspicious bids
Salah satu fungsi yang paling rawan resiko fraud-nya adalah bagian pengadaan atau pembelian atau procurement. Salah satu modus yang biasa dilakukan yaitu dengan memberikan informasi yang tidak fair kepada calon supplier. Fraud test yang bisa dilakukan adalah dengan membandingkan tanggal penerimaan dokumen penawaran dengan tanggal pengumuman hasil pemenang. Supplier yang secara konsisten memenangkan tender dengan memasukkan penawaran mendekati tanggal pengumuman hasil tender bisa jadi mendapat info (baca: kolusi) dengan orang dalam. Misalnya dikasih tahu harga penawaran supplier lain, dsb.
Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan oleh suatu organisasi/perusahaan apabila terdapat indikasi kecurangan dan langkah-langkah di atas juga dapat digunakan oleh auditor untuk mendeteksi adanya kecurangan, namun disesuaikan dengan kondisi yang ada. Misalnya, auditor memperoleh suatu surat pengaduan dengan identitas yang tidak jelas namun indikasi kecurangan cukup kuat. Dalam hal ini, auditor boleh jadi tetap melakukan audit kecurangan tanpa harus melakukan klarifikasi atas identitas pelapor, yaitu:
- Uji sumber pengaduan (misal: cek identitas, kredibilitas, kemampuan mengetahui kecurangan tersebut, dan keandalan dari si pelapor/pengadu)
- Tentukan apakah pelapor mengetahui informasi dari tangan pertama (secara pribadi mengetahui terjadinya kecurangan) atau dari pihak lain
- Tentukan apa motif dari pelapor (balas dendam, cemburu, jengkel, uang)
- Waspada, apabila pelapor meminta uang sebelum memberi penjelasan lebih jauh (jangan memberikan uang sebelum informasi yang akurat diberikan dan dikonfirmasi dengan saksi yang dapat dipercaya dan dengan dokumen)
- Uji lebih jauh dugaan kecurangan tersebut dengan sumber independen dan dokumen
- Jangan mengambil tindakan disiplin tanpa catatan lengkap mengenai tuduhan kecurangan, termasuk identitas pelapor dan keterangan tertulisnya (keterangan lisan tidak cukup)
- Konfirmasi tuduhan tersebut melalui dokumen dan pengakuan/testimony (tertulis dan berkaitan dengan) saksi-saksi lain yang mengetahuinya
- Lakukan pendekatan dengan pemasok atau pihak-pihak lain yang diduga terlibat untuk memperoleh jawaban dan kerjasama mereka
- Lakukan interview terhadap karyawan yang diduga terlibat untuk mengetahui versinya mengenai dugaan kecurangan tersebut (misalnya, apakah pemasok yang mengajukan penawaran atau karyawan yang menetapkan harga dari pemasok)








BAB III
KESIMPULAN

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, perusahaan senantiasa menghadapi berbagai resiko yang dinamakan resiko bisnis (bussiness risk). Termasuk diantaranya adalah resiko terjadinya kecurangan (fraud) yang tergolong dalam resiko integritas (Integrity Risk). Menurut ACFE, kecurangan yang terjadi dapat digolongkan ke dalam tiga kategori kecurangan, kecurangan laporan keuangan (Financial Statement Fraud), penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation), dan korupsi (Corruption). Tanda-tanda awal (symptoms) biasanya muncul dalam kasus kecurangan, walau demikian munculnya symptoms tersebut belum berarti telah terjadi kecurangan. Symptoms ini dikenal dengan nama Red flag, yang seyogyanya dipahami dan digunakan oleh internal auditor dalam melakukan analisis dan evaluasi lebih lanjut untuk mendeteksi adanya kecurangan yang mungkin timbul sebelum dialakuakan investigasi.
Setelah memahami jenis-jenis kecurangan, internal auditor perlu memahami secara tepat struktur pengendalian intern yang baik agar dapat melakukan upaya-upaya untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan. Menurut COSO, struktur pengendalian intern terdiri atas lima komponen, yaitu Lingkungan Pengendalian (Control Environment), Penaksiran Risiko (Risk Assessment), Standar Pengedalian (Control Activities), Informasi Dan Komunikasi (Information And Communication), serta Pemantauan (Monitoring). Jika struktur internal control sudah ditempatkan dan berjalan dengan baik, peluang adanya kecurangan yang tak terdeteksi akan banyak berkurang. Pemeriksa kecurangan harus mengenal dan memahami dengan baik setiap elemen dalam struktur pengendalian intern agar dapat melakukan evaluasi dan mencari kelemahannya.
Ref : feunpak.web.id

langkah menjadi auditor

Langkah-Langkah Menjadi Auditor
Langkah-langkah menjadi auditor adalah sebagai berikut :
1.Syarat utamanya adalah mempunyai kemampuan analisa yang baik,sebagaimana audit keuangan dasarnya adalah logika. Semakin baik logika tentunya hasil pekerjaan auditnya lebih baik. Tapi penilaiannya agak susah,sehingga paling gampang adalah kemampuan akuntasi yang baik.
2.Sebagaimana konsultan perminyakan yang mempelajari tentang dasar minyak bumi. Auditor keuangan harus menguasai semua hal yang berhubungan dengan keuangan mulai dari penjurnalan sampai teori-teori akuntansi.
3.Dapat mengarahkan pelaksanaan audit atas catatan-catatan finansial dan informasi tambahan lainnya dengan cepat.
4.Bertujuan untuk meyakinkan kebenaran formal dan material dari bukti-bukti yang terkumpul,jumlah-jumlah yang tertera dalam bukti-bukti adalah benar,dan untuk meyakinkan bahwa bukti-bukti tersebut dibukukan dan disimpan dengan tepat.

Langkah-Langkah Menjadi Auditor
Arens et al (2003) menyatakan bahwa audit dilakukan oleh orang yang kompeten, independen dan obyektif atau disebut sebagai auditor. Berdasarkan kelompok atau pelaksana audit, auditor dibagi 3 jenis yaitu:

1) Auditor ekstern/independent bekerja untuk kantor akuntan publik yang statusnya diluar struktur perusahaan yang mereka audit. Pada umumnya, auditor ekstern menghasilkan Laporan Hasil Audit atas Laporan Keuangan.

2) Auditor intern bekerja untuk perusahaan yang mereka audit. Laporan Hasil Audit Operasional/Manajemen umumnya berguna bagi manajemen perusahaan yang diaudit dalam melakukan perbaikan kinerja perusahaan. Oleh karena itu tugas internal auditor biasanya adalah audit operasional/manajemen.

3) Auditor Pemerintah yaitu auditor yang bekerja untuk kepentingan pemerintah, misalnya di bidang perpajakan atau audit terhadap dana-dana yang bersumber dari pemerintah.

Seorang auditor dikatakan profesional jika dalam bekerja selalu berpedoman pada Standar Audit. Dalam standar umum khususnya disebutkan bahwa auditor harus ahli, trampil dan mempunyai kehati-hatian profesional serta tidak memihak yang pada akhirnya akan merugikan salah satu pihak yang berkepentingan. Auditor yang profesional akan merencanakan audit sebaik-baiknya, mempertimbangkan risiko yang timbul dan melakukan pengumpulan serta pengujian bukti secara cermat. Jika seluruh proses dilalui sesuai dengan standar, maka hampir dapat dipastikan bahwa Laporan Hasil Audit yang dihasilkan akan dapat dipertanggungjawabkan secara profesi.

Tentu saja untuk menjadi seorang auditor profesional tidak seperti membalikan telapak tangan, tetapi melalui proses yang panjang dan berkelanjutan.
Saran berikut ini diharapkan dapat menjadikan seseorang dapat menjadi auditor yang profesional:

1) Memupuk sejak dini sifat/sikap positif, seperti jujur, rasa ingin tahu yang tinggi, tidak cepat merasa puas dan etika yang tinggi.

2) Pendidikan formal berkelanjutan, terutama untuk mendapatkan konsep-konsep dasar akuntansi dan auditing.

3) Pendidikan dan latihan profesi berkelanjutan untuk memperoleh sertifikat auditor dan mengembangkan kemampuan teknis dan komunikasi serta pengetahuan mengenai isu terkini di bidang akuntansi dan auditing.

Ref : feunpak.web.id

CSR

Corporate Social Responsibility
Komitment perusahaan terhadap masyarakat merupakan bagian yang sangat penting dari kegiatan perusahaan. Membangun masyarakat yang sehat dan kinerja yang tinggi merupakan tujuan setiap perusahaan, sehingga perusahaan akan terus berupaya mencapai pengakuan, termasuk dalam kepedulian masyarakat.
Indonesia adalah salah satu Negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya, termasuk sumber daya alam yang berdampingan bahkan milik langsung dari masyarakatnya. Dengan demikian, banyak perusahaan beroperasi pada lahan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan hajat hidup orang banyak. Dalam keadaan seperti ini, perusahaan akan dengan mudah memberikan kemampuan tanggung-jawab sosialnya kepada masyarakat, namun dilain sisi, perusahaan juga bisa saja mengalami dilemma dalam melakukan kegiatan social ini akibat banyaknya permintaan dan motivasi tertentu dari masyarakat itu sendiri.
CSR merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 UU Perseroan Terbatas (UUPT) yang baru saja disyahkan oleh DPR RI. Dengan adanya UU ini, maka perusahaan -Industri atau korporasi-korporasi wajib untuk melaksanakannya atau dengan kata lain, sebuah korporasi juga dituntut untuk memperhatikan aspek social, dan lingkungan selain daripada aspek keuangannya. Namun demikian, CSR belum seluruhnya dilakukan oleh setiap korporasi, oleh karena CSR dianggap tidak mampu memberikan dampak keuntungan keuangan dalam jangka pendek dan mungkin juga karena ketidak-tahuan dalam mengelolah CSR dengan baik.
Training ini diperuntukkan bagi korporasi yang peduli serta akan membangun system pengelolaan CSR secara terarah dan terukur yang dikemas dengan menarik dengan menghadirkan nara sumber yang sudah berpengalaman dalam dunia industri.
Tanggung jawab sosial perusahaan ("CSR" untuk jangka pendek, dan juga disebut nurani perusahaan, kewarganegaraan, kinerja sosial, atau bisnis yang bertanggung jawab berkelanjutan [1]) adalah bentuk peraturan perusahaan sendiri diintegrasikan ke dalam model bisnis. CSR kebijakan berfungsi sebagai mekanisme built-in, mengatur diri sendiri dimana bisnis memonitor dan memastikan kepatuhan aktif dengan semangat hukum, standar etika, dan norma-norma internasional. Tujuan dari CSR adalah untuk menerima tanggung jawab atas tindakan perusahaan dan mendorong dampak yang positif melalui kegiatan pada lingkungan, konsumen, karyawan, masyarakat, stakeholder dan semua anggota lain dari ruang publik.

Selanjutnya, usaha CSR yang berfokus secara proaktif akan mempromosikan kepentingan publik oleh pertumbuhan masyarakat dan mendorong pembangunan, dan sukarela menghilangkan praktek-praktek yang merugikan lingkup publik, terlepas dari legalitas. CSR adalah dimasukkannya sengaja kepentingan publik menjadi perusahaan-pengambilan keputusan, dan menghormati dari triple bottom line: orang, planet, dan keuntungan.

Beberapa komentator telah mengidentifikasi perbedaan antara Eropa Kontinental dan pendekatan Anglo-Saxon untuk CSR [3] Dan bahkan di Eropa diskusi tentang CSR sangat heterogen.. [4]
Pendekatan untuk CSR yang semakin banyak diterima adalah pendekatan pembangunan berbasis masyarakat.

Dalam pendekatan ini, perusahaan bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk memperbaiki diri sendiri. Sebagai contoh, keterlibatan Shell Foundation di Flower Valley, Afrika Selatan. Dalam Bunga Valley mereka mendirikan sebuah Early Learning Centre untuk membantu mendidik anak-anak masyarakat serta mengembangkan keterampilan baru untuk orang dewasa. Marks and Spencer juga aktif dalam komunitas ini melalui pembangunan jaringan perdagangan dengan masyarakat - menjamin pembelian rutin perdagangan yang adil.

Seringkali kegiatan perusahaan yang berpartisipasi dalam membangun sarana pendidikan untuk orang dewasa dan HIV / AIDS program pendidikan. Sebagian besar proyek-proyek CSR didirikan di Afrika. JIDF Untuk Anda, adalah sebuah usaha untuk mempromosikan kegiatan ini di India.

Pendekatan yang lebih umum dari CSR filantropi. Ini termasuk sumbangan moneter dan bantuan yang diberikan kepada organisasi lokal dan masyarakat miskin di negara-negara berkembang. Beberapa organisasi [siapa?] Tidak menyukai pendekatan ini karena tidak membantu membangun keterampilan masyarakat setempat, bahwa pembangunan berbasis masyarakat pada umumnya mengarah ke pembangunan yang lebih berkelanjutan. [Klarifikasi diperlukan Perbedaan antara org lokal & komunitas-dev? Cite]
Pendekatan lain untuk CSR abcd adalah untuk menggabungkan strategi CSR langsung ke dalam strategi bisnis organisasi. Misalnya, pengadaan Fair Trade teh dan kopi telah diadopsi oleh berbagai bisnis termasuk KPMG. Its manajer CSR berkomentar, "Fairtrade cocok sangat kuat ke
dalam komitmen kami terhadap masyarakat kami." [5]

Pendekatan lain adalah mengumpulkan meningkatkan minat tanggung jawab perusahaan. Ini disebut Menciptakan Shared Value, atau CSV. Model nilai bersama ini didasarkan pada gagasan bahwa keberhasilan perusahaan dan kesejahteraan sosial saling bergantung. Sebuah perusahaan membutuhkan tenaga kerja, kesehatan terdidik, sumber daya yang berkelanjutan dan pemerintah mahir untuk bersaing secara efektif. Bagi masyarakat untuk berkembang, usaha yang menguntungkan dan kompetitif harus dikembangkan dan didukung untuk menciptakan penghasilan, kekayaan, pendapatan pajak, dan kesempatan untuk filantropi. CSV mendapat perhatian global dalam artikel Harvard Business Review Strategi & Masyarakat: Link antara

Competitive Advantage dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan [1] oleh Michael E. Porter, seorang otoritas terkemuka di strategi bersaing dan kepala Institut Strategi dan Daya Saing di Harvard Business sekolah, dan Mark R. Kramer, Senior Fellow di Kennedy School di Harvard University dan pendiri FSG Dampak Sosial Advisors. Artikel ini memberikan pemahaman dan contoh-contoh yang relevan dari perusahaan yang telah mengembangkan hubungan yang mendalam antara strategi bisnis mereka dan tanggung jawab sosial perusahaan. Banyak pendekatan untuk bisnis pit CSR terhadap masyarakat, menekankan keterbatasan biaya dan kepatuhan terhadap standar-standar sosial dan lingkungan eksternal yang dipaksakan. CSV mengakui trade-off antara profitabilitas jangka pendek dan tujuan sosial atau lingkungan, tetapi lebih memfokuskan pada peluang untuk keunggulan kompetitif dari membangun proposisi nilai sosial ke dalam strategi perusahaan.
Banyak perusahaan menggunakan strategi benchmarking untuk bersaing dalam industri masing-masing dalam kebijakan CSR, pelaksanaan, dan keefektifan. Pembandingan melibatkan meninjau inisiatif pesaing CSR, serta pengukuran dan evaluasi dampak yang kebijakan terhadap masyarakat dan lingkungan, dan bagaimana pelanggan memandang strategi pesaing CSR. Setelah studi komprehensif strategi pesaing dan meninjau kebijakan internal yang dilakukan, perbandingan dapat ditarik dan strategi yang dikembangkan untuk kompetisi dengan inisiatif CSR.


The "tanggung jawab sosial perusahaan" istilah masuk untuk umum digunakan pada awal tahun 1970, setelah banyak perusahaan multinasional terbentuk. Istilah stakeholder, yang berarti orang pada siapa kegiatan organisasi memiliki dampak, digunakan untuk menggambarkan pemilik perusahaan di luar pemegang saham sebagai hasil dari sebuah buku yang berpengaruh oleh R. Edward Freeman, Strategis manajemen: pendekatan stakeholder pada tahun 1984 [2] Para pendukung berdebat. bahwa perusahaan membuat keuntungan jangka yang lebih panjang dengan beroperasi dengan perspektif, sedangkan kritik yang mengatakan bahwa CSR mengalihkan perhatian dari peran ekonomi bisnis. Lain menyatakan CSR hanya window-dressing, atau upaya untuk lebih dulu peran pemerintah sebagai pengawas atas perusahaan multinasional yang kuat.
CSR berjudul untuk membantu misi organisasi serta panduan untuk apa perusahaan singkatan dan akan menjunjung tinggi kepada konsumennya. Pengembangan etika bisnis adalah salah satu bentuk etika terapan yang meneliti prinsip-prinsip etika dan masalah moral atau etika yang dapat timbul dalam lingkungan bisnis. ISO 26000 adalah standar internasional yang diakui untuk CSR (saat ini Draft Standar Internasional). organisasi sektor publik (PBB misalnya) mematuhi triple bottom line (TBL). Sudah diterima secara luas bahwa CSR menganut prinsip-prinsip yang sama tetapi dengan tidak ada tindakan formal undang-undang. PBB telah mengembangkan Prinsip untuk Investasi Bertanggung jawab sebagai pedoman untuk investasi entitas.
Sumber :
1. p://www.informasi-training.com/csr-corporate-social-responsibility-as-per-iso-26000-wd4-02-penerapan-sistem-management-dalam-csr
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Corporate_social_responsibility

the big four

The Big Four
The Big Four adalah empat akuntansi internasional terbesar dan profesional perusahaan jasa, yang menangani sebagian besar audit bagi perusahaan publik serta perusahaan swasta banyak, menciptakan oligopoli di perusahaan audit besar.
Kelompok ini dulu dikenal sebagai "Delapan Besar", dan dikurangi dengan "Big Five" oleh serangkaian merger. Lima Besar menjadi Big Four setelah kematian-dekat Arthur
Andersen pada tahun 2002, menyusul keterlibatannya dalam skandal Enron. Tak satu pun dari perusahaan akuntansi Big Four adalah sebuah perusahaan tunggal. Setiap jaringan perusahaan, dimiliki dan dikelola secara mandiri, yang telah mengadakan perjanjian dengan perusahaan anggota lain di dalam jaringan untuk berbagi nama merek, umum dan standar kualitas. Setiap jaringan telah membentuk badan untuk mengkoordinasi kegiatan jaringan. Dalam satu kasus (KPMG), badan koordinasi adalah Swiss, dan dalam tiga kasus (Deloitte Touche Tohmatsu, PricewaterhouseCoopers, dan Ernst & Young) co-ordinasi entitas adalah sebuah perusahaan Inggris terbatas. Entitas tidak praktek akuntansi sendiri, dan tidak memiliki atau mengontrol perusahaan anggota.
Dalam kebanyakan kasus setiap perusahaan anggota praktik di satu negara, dan terstruktur untuk mematuhi peraturan lingkungan di negara itu. Namun, pada tahun 2007 KPMG mengumumkan merger empat perusahaan anggota (di Inggris, Jerman, Swiss dan Liechtenstein) untuk membentuk sebuah perusahaan tunggal.
Angka-angka dalam artikel ini mengacu pada pendapatan gabungan dari setiap jaringan perusahaan. Sejak tahun 1989, merger dan satu skandal besar yang melibatkan Arthur Andersen telah mengurangi jumlah perusahaan akuntansi utama empat,.Big 8 (sampai 1987)

Perusahaan disebut Big 8 untuk sebagian besar dari abad ke-20, yang mencerminkan dominasi internasional dari delapan perusahaan akuntansi terbesar:
1. Arthur Andersen
2. Arthur Young & Co.
3. Coopers & Lybrand
4. Ernst & Whinney (until 1979 Ernst & Ernst in the US and Whinney Murray in the UK)
5. Deloitte Haskins & Sells (until 1978 Haskins & Sells in the US and Deloitte Plender Griffiths in the UK)
6. Peat Marwick Mitchell, later Peat Marwick, then KPMG
7. Price Waterhouse
8. Touche Ross
Sebagian besar berasal 8 Besar aliansi terbentuk antara Inggris dan perusahaan akuntansi Amerika Serikat pada abad ke-20 ke-19 atau awal. Price Waterhouse adalah sebuah perusahaan Inggris yang membuka kantor AS pada tahun 1890 dan kemudian membentuk kemitraan AS terpisah. Inggris dan AS Gambut Marwick Mitchell perusahaan mengadopsi nama yang umum pada tahun 1925. Nama-nama perusahaan lain yang digunakan terpisah untuk usaha dalam negeri, dan tidak mengadopsi nama-nama umum sampai lama kemudian: Touche Ross pada tahun 1960, Arthur Young (di Young Arthur pertama, McLelland Moores) pada tahun 1968, Coopers & Lybrand pada tahun 1973, Deloitte Haskins & Sells pada tahun 1978 dan Ernst & Whinney pada tahun 1979 [5].
Ekspansi awal internasional perusahaan 'ini didorong oleh kebutuhan Inggris dan perusahaan multinasional berbasis di AS untuk layanan di seluruh dunia. Mereka diperluas dengan membentuk kemitraan lokal atau dengan membentuk aliansi dengan perusahaan lokal.

Arthur Andersen memiliki sejarah yang berbeda. Perusahaan itu berasal dari Amerika Serikat, dan dikembangkan secara internasional dengan mendirikan kantor sendiri di pasar lain, termasuk Inggris.
Pada 1980-an Besar 8, masing-masing sekarang dengan merek global, diadopsi pemasaran modern dan tumbuh pesat. Mereka bergabung dengan perusahaan yang lebih kecil. Salah satu yang terbesar ini merger pada tahun 1987, ketika Peat Marwick bergabung dengan Grup KMG menjadi KPMG Peat Marwick, kemudian dikenal hanya sebagai KPMG.
Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/the-big-four

cv english

Curriculum Vitae



Name: Oryza Sativa
Gender: Female
Place & Date of Birth: Bogor, 22 April 1989
Address: Jl. Pembangunan Rt 02/XI No. 39 Ciparigi Bogor North Bogor 16710
Religion: Islam
Status: Single
Phone No.: (0251) 8659042
No hp: 085697754678


Last Educational History

1. TK Aisyiah
2. SDN pengadilan 5 Bogor
3. SLTPN 1 Bogor
4. SMAN 2 Bogor

Curriculum Vitae CV so I created this in truth.




I Sincerely,


Oryza sativa

CSR

Corporate Social Responsibility
Komitment perusahaan terhadap masyarakat merupakan bagian yang sangat penting dari kegiatan perusahaan. Membangun masyarakat yang sehat dan kinerja yang tinggi merupakan tujuan setiap perusahaan, sehingga perusahaan akan terus berupaya mencapai pengakuan, termasuk dalam kepedulian masyarakat.
Indonesia adalah salah satu Negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya, termasuk sumber daya alam yang berdampingan bahkan milik langsung dari masyarakatnya. Dengan demikian, banyak perusahaan beroperasi pada lahan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan hajat hidup orang banyak. Dalam keadaan seperti ini, perusahaan akan dengan mudah memberikan kemampuan tanggung-jawab sosialnya kepada masyarakat, namun dilain sisi, perusahaan juga bisa saja mengalami dilemma dalam melakukan kegiatan social ini akibat banyaknya permintaan dan motivasi tertentu dari masyarakat itu sendiri.
CSR merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 UU Perseroan Terbatas (UUPT) yang baru saja disyahkan oleh DPR RI. Dengan adanya UU ini, maka perusahaan -Industri atau korporasi-korporasi wajib untuk melaksanakannya atau dengan kata lain, sebuah korporasi juga dituntut untuk memperhatikan aspek social, dan lingkungan selain daripada aspek keuangannya. Namun demikian, CSR belum seluruhnya dilakukan oleh setiap korporasi, oleh karena CSR dianggap tidak mampu memberikan dampak keuntungan keuangan dalam jangka pendek dan mungkin juga karena ketidak-tahuan dalam mengelolah CSR dengan baik.
Training ini diperuntukkan bagi korporasi yang peduli serta akan membangun system pengelolaan CSR secara terarah dan terukur yang dikemas dengan menarik dengan menghadirkan nara sumber yang sudah berpengalaman dalam dunia industri.
Tanggung jawab sosial perusahaan ("CSR" untuk jangka pendek, dan juga disebut nurani perusahaan, kewarganegaraan, kinerja sosial, atau bisnis yang bertanggung jawab berkelanjutan [1]) adalah bentuk peraturan perusahaan sendiri diintegrasikan ke dalam model bisnis. CSR kebijakan berfungsi sebagai mekanisme built-in, mengatur diri sendiri dimana bisnis memonitor dan memastikan kepatuhan aktif dengan semangat hukum, standar etika, dan norma-norma internasional. Tujuan dari CSR adalah untuk menerima tanggung jawab atas tindakan perusahaan dan mendorong dampak yang positif melalui kegiatan pada lingkungan, konsumen, karyawan, masyarakat, stakeholder dan semua anggota lain dari ruang publik.

Selanjutnya, usaha CSR yang berfokus secara proaktif akan mempromosikan kepentingan publik oleh pertumbuhan masyarakat dan mendorong pembangunan, dan sukarela menghilangkan praktek-praktek yang merugikan lingkup publik, terlepas dari legalitas. CSR adalah dimasukkannya sengaja kepentingan publik menjadi perusahaan-pengambilan keputusan, dan menghormati dari triple bottom line: orang, planet, dan keuntungan.

Beberapa komentator telah mengidentifikasi perbedaan antara Eropa Kontinental dan pendekatan Anglo-Saxon untuk CSR [3] Dan bahkan di Eropa diskusi tentang CSR sangat heterogen.. [4]
Pendekatan untuk CSR yang semakin banyak diterima adalah pendekatan pembangunan berbasis masyarakat.

Dalam pendekatan ini, perusahaan bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk memperbaiki diri sendiri. Sebagai contoh, keterlibatan Shell Foundation di Flower Valley, Afrika Selatan. Dalam Bunga Valley mereka mendirikan sebuah Early Learning Centre untuk membantu mendidik anak-anak masyarakat serta mengembangkan keterampilan baru untuk orang dewasa. Marks and Spencer juga aktif dalam komunitas ini melalui pembangunan jaringan perdagangan dengan masyarakat - menjamin pembelian rutin perdagangan yang adil.

Seringkali kegiatan perusahaan yang berpartisipasi dalam membangun sarana pendidikan untuk orang dewasa dan HIV / AIDS program pendidikan. Sebagian besar proyek-proyek CSR didirikan di Afrika. JIDF Untuk Anda, adalah sebuah usaha untuk mempromosikan kegiatan ini di India.

Pendekatan yang lebih umum dari CSR filantropi. Ini termasuk sumbangan moneter dan bantuan yang diberikan kepada organisasi lokal dan masyarakat miskin di negara-negara berkembang. Beberapa organisasi [siapa?] Tidak menyukai pendekatan ini karena tidak membantu membangun keterampilan masyarakat setempat, bahwa pembangunan berbasis masyarakat pada umumnya mengarah ke pembangunan yang lebih berkelanjutan. [Klarifikasi diperlukan Perbedaan antara org lokal & komunitas-dev? Cite]
Pendekatan lain untuk CSR abcd adalah untuk menggabungkan strategi CSR langsung ke dalam strategi bisnis organisasi. Misalnya, pengadaan Fair Trade teh dan kopi telah diadopsi oleh berbagai bisnis termasuk KPMG. Its manajer CSR berkomentar, "Fairtrade cocok sangat kuat ke
dalam komitmen kami terhadap masyarakat kami." [5]

Pendekatan lain adalah mengumpulkan meningkatkan minat tanggung jawab perusahaan. Ini disebut Menciptakan Shared Value, atau CSV. Model nilai bersama ini didasarkan pada gagasan bahwa keberhasilan perusahaan dan kesejahteraan sosial saling bergantung. Sebuah perusahaan membutuhkan tenaga kerja, kesehatan terdidik, sumber daya yang berkelanjutan dan pemerintah mahir untuk bersaing secara efektif. Bagi masyarakat untuk berkembang, usaha yang menguntungkan dan kompetitif harus dikembangkan dan didukung untuk menciptakan penghasilan, kekayaan, pendapatan pajak, dan kesempatan untuk filantropi. CSV mendapat perhatian global dalam artikel Harvard Business Review Strategi & Masyarakat: Link antara

Competitive Advantage dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan [1] oleh Michael E. Porter, seorang otoritas terkemuka di strategi bersaing dan kepala Institut Strategi dan Daya Saing di Harvard Business sekolah, dan Mark R. Kramer, Senior Fellow di Kennedy School di Harvard University dan pendiri FSG Dampak Sosial Advisors. Artikel ini memberikan pemahaman dan contoh-contoh yang relevan dari perusahaan yang telah mengembangkan hubungan yang mendalam antara strategi bisnis mereka dan tanggung jawab sosial perusahaan. Banyak pendekatan untuk bisnis pit CSR terhadap masyarakat, menekankan keterbatasan biaya dan kepatuhan terhadap standar-standar sosial dan lingkungan eksternal yang dipaksakan. CSV mengakui trade-off antara profitabilitas jangka pendek dan tujuan sosial atau lingkungan, tetapi lebih memfokuskan pada peluang untuk keunggulan kompetitif dari membangun proposisi nilai sosial ke dalam strategi perusahaan.
Banyak perusahaan menggunakan strategi benchmarking untuk bersaing dalam industri masing-masing dalam kebijakan CSR, pelaksanaan, dan keefektifan. Pembandingan melibatkan meninjau inisiatif pesaing CSR, serta pengukuran dan evaluasi dampak yang kebijakan terhadap masyarakat dan lingkungan, dan bagaimana pelanggan memandang strategi pesaing CSR. Setelah studi komprehensif strategi pesaing dan meninjau kebijakan internal yang dilakukan, perbandingan dapat ditarik dan strategi yang dikembangkan untuk kompetisi dengan inisiatif CSR.


The "tanggung jawab sosial perusahaan" istilah masuk untuk umum digunakan pada awal tahun 1970, setelah banyak perusahaan multinasional terbentuk. Istilah stakeholder, yang berarti orang pada siapa kegiatan organisasi memiliki dampak, digunakan untuk menggambarkan pemilik perusahaan di luar pemegang saham sebagai hasil dari sebuah buku yang berpengaruh oleh R. Edward Freeman, Strategis manajemen: pendekatan stakeholder pada tahun 1984 [2] Para pendukung berdebat. bahwa perusahaan membuat keuntungan jangka yang lebih panjang dengan beroperasi dengan perspektif, sedangkan kritik yang mengatakan bahwa CSR mengalihkan perhatian dari peran ekonomi bisnis. Lain menyatakan CSR hanya window-dressing, atau upaya untuk lebih dulu peran pemerintah sebagai pengawas atas perusahaan multinasional yang kuat.
CSR berjudul untuk membantu misi organisasi serta panduan untuk apa perusahaan singkatan dan akan menjunjung tinggi kepada konsumennya. Pengembangan etika bisnis adalah salah satu bentuk etika terapan yang meneliti prinsip-prinsip etika dan masalah moral atau etika yang dapat timbul dalam lingkungan bisnis. ISO 26000 adalah standar internasional yang diakui untuk CSR (saat ini Draft Standar Internasional). organisasi sektor publik (PBB misalnya) mematuhi triple bottom line (TBL). Sudah diterima secara luas bahwa CSR menganut prinsip-prinsip yang sama tetapi dengan tidak ada tindakan formal undang-undang. PBB telah mengembangkan Prinsip untuk Investasi Bertanggung jawab sebagai pedoman untuk investasi entitas.
Sumber :
1. p://www.informasi-training.com/csr-corporate-social-responsibility-as-per-iso-26000-wd4-02-penerapan-sistem-management-dalam-csr
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Corporate_social_responsibility

kualifikasi dan regulasi akuntansi

Kualifikasi dan regulasi di bidang akuntansi
Persyaratan untuk dapat masuk dalam profesi akuntansi berbeda di setiap negara.
Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, akuntan yang berpraktek disebut Certified Public Accountant (CPA), Certified Internal Auditor (CIA) dan Certified Management Accountant (CMA). Perbedaan jenis sertifikasi adalah dalam hal jenis-jenis jasa yang ditawarkan, walaupun mungkin saja satu orang memiliki lebih dari satu sertifikat. Sebagai tambahan, banyak pekerjaan akuntansi dikerjakan oleh seseorang tanpa memiliki sertifikasi namun di bawah pengawasan seorang akuntan bersertifikat.
Sertifikasi CPA dikeluarkan di negara bagian tempat kedudukan yang bersangkutan berupa ijin untuk menawarkan jasa auditing kepada publik, walaupun kebanyakan kantor akuntan juga menawakan jasa akuntansi, perpajakan, bantuan litigasi dan konsultansi keuangan lainnya. Persyaratan untuk mendapat sertifikat CPA bervariasi di antara negara bagian, namun ujian Uniform Certified Public Accountant diharuskan di setiap negara bagian. Ujian ini dibuat dan diperiksa oleh American Institute of Certified Public Accountants.
Sertifikasi CIA dikeluarkan oleh Institute of Internal Auditors (IIA), yang diberikan kepada kandidat yang lulus dalam empat bagian ujian. CIA kebanyakan memberikan jasanya kepada pemberi kerja langsung bukan kepada publik.
Sertifikasi CMA diberikan oleh Institute of Management Accountants (IMA), yang diberikan kepada kandidat yang dinyatakan lulus dalam empat bagian ujian dan memenuhi pengalaman praktek tertentu berdasarakan ketentuan IMA. CMA kebanyakan memberikan jasanya kepada pemberi kerja langsung bukan kepada publik. CMA juga bisa menawarkan jasanya kepada publik, namun dengan lingkup yang lebih kecil dibanding CPA.
Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics) dari Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (United States Department of Labor) memperkirakan ada sekitar satu juta[4] orang yang bekerja sebagai akuntan dan auditor di Amerika Serikat.
Persemakmuran Inggris
Di Inggris, Kanada, Australia beberapa negara persemakmuran Inggris, ekuivalen Certified Public Accountant (CPA) diantaranya Chartered Accountant (CA - di Inggris, Persemakmuran Inggris dan beberapa bekas negara bagian Inggris lainnya), Chartered Certified Accountant (ACCA - Inggris), International Accountant (AIA - Inggris), Certified Public Accountant (CPA - Irlandia dan Hong Kong), Certified General Accountant (CGA - Kanada), dan Certified Practising Accountant (CPA - Australia).


Kanada
Di Kanada, ada tiga lembaga yang menangani akuntansi: the Canadian Institute of Chartered Accountants (CA), the Certified General Accountants Association of Canada (CGA), dan the Society of Management Accountants of Canada (CMA). CA dan CGA dibentuk berdasarkan Undang-undang Parlemen berturut-turut pada tahun 1902 dan 1913 sedangkan CMA didirikan dalam tahun 1920.
Program CA difokuskan menjadi akuntan publik dan kandidat harus memiliki pengalaman auditing dari kantor akuntan publik; program CGA memberikan kebebasan bagi kandidatnya untuk memilih karier di bidanga keuangan; program CMA memfokuskan diri pada akuntansi manajemen. Ketiganya mengharuskan setiap kandidat untuk mendapatkan gelar kesarjanaan dan pengalaman praktek sebelum memperoleh sertifikasi.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi